KOMPAS.com — Saat ini sekitar 95 persen penduduk dunia menderita penyakit karies atau gigi berlubang. Tiga penyebab utama gigi berlubang, yakni bakteri Mutans streptococci, air liur, dan sisa makanan.
Sisa-sisa makanan (terutama gula) yang tertinggal di sela-sela gigi akan merangsang pertumbuhan bakteri Mutans streptococci sehingga koloninya terus bertambah pada lapisan plak gigi. Bakteri tersebut dapat memfermentasi gula yang tertinggal di gigi dan menghasilkan senyawa asam yang akan menurunkan pH mulut menjadi kurang dari 5,5. Senyawa asam akan mengikis lapisan email gigi sehingga terbentuk lubang di permukaan gigi.
Xilitol berdampak positif terhadap kesehatan gigi karena dapat menghambat metabolisme pertumbuhan dan pembentukan plak gigi oleh bakteri Mutans streptococci. Xilitol diyakini dapat menunjang proses remineralisasi pada karies gigi. Hal ini dikemukakan Prof Jason Tanzer, Kepala Connecticut School of Dental Medicine.
Xilitol dinilai sebagai pemanis yang bersahabat dengan gigi. Disebut demikian tidak hanya karena xilitol mencegah kerusakan gigi dengan mengganti peran gula biasa, tetapi juga karena dapat memperbaiki kerusakan kecil pada karies gigi. Xilitol dinyatakan dapat mengurangi plak gigi yang tidak mampu diurai oleh mikroorganisme yang hidup di mulut sehingga mengakibatkan gigi berlubang.
Xilitol dinilai sebagai penemuan senyawa terhebat kedua bagi kesehatan gigi setelah fluoride, seperti diakui Dr Nigel Carter dari International Dental Health Foundation. Karena xilitol merupakan pemanis hampa kalori, bakteri Mutans streptococci tidak dapat menggunakannya sebagai sumber energi, bahkan mengancam kelangsungan hidupnya.
Selain itu, xilitol tidak dapat difermentasi sehingga tidak terbentuk senyawa asam penyebab gigi berlubang. Xilitol menjaga pH mulut tetap stabil pada pH netral (sekitar 7) sehingga dapat mencegah gigi berlubang dan merangsang produksi air liur yang kaya akan kalsium untuk mempercepat proses pembentukan kembali lapisan mineral gigi.
can you count me?
welcome snack to you
di blog ini kami akan berbagi tentang kegiatan dari ekstrakulikuler dan beberapa tips kesehatan yang mungkin berguna untuk pembaca sekalian.
Jika ada saran dan kritik bisa disampaikan melalui
chatbox di bagian kanan.
Salam Perdamaian Dunia!
Senin, 03 Agustus 2009
Celup Saus Sekali Saja
Mencelupkan keripik atau penganan lain ke saus, menggigitnya, lalu mencelupkannya lagi, memang bisa menyebarkan kuman. Apalagi kalau saus tersebut dinikmati beramai-ramai.
Masih menurut penelitian Paul Dawson dari Clemson University, kebiasaan berulang kali mencelupkan makanan bisa memindahkan ribuan bakteri saliva ke saus. Lima puluh hingga seratus di antaranya akan menulari penganan yang bersih, yang kemudian berakhir di mulut orang lain.
Masih belum diketahui berapa lama bakteri saliva bisa bertahan, atau apakah bakteri itu bisa mengakibatkan infeksi dalam saluran pencernaan kita.
Anjuran:
Sebaiknya ita agak berhati-hati kalau mau menikmati penganan bersaus bersama teman-teman. Mencelupkan penganan ke dalam saus yang sudah dua kali digunakan oleh orang lain, sama saja dengan mencium orang tersebut. Paul juga mengatakan kalau terutama kita harus berhati-hati dengan saus yagn bentuknya cair.
"Belum 5 Menit" Masih Aman?
KOMPAS.com - Kalau ada makanan tanpa sengaja jatuh ke lantai, biasanya kita akan refleks memungut kembali dengan alasan "belum 5 menit". Padahal, tidak ada makanan yang masih sehat kalau sudah ke lantai, meski cuma 1 detik.
Kontaminasi bakteri berlangsung sangat cepat. Bahkan, lebih cepat dari gerakan refleks kita. Dalam penelitian terbarunya, Paul Dawson, ilmuwan bidang makanan dari Clemson Univeristy, sengaja mengontimansi lantai keramik, lantai kayu, dan kerpet dengan bakteri Salmonella. Kemudian Paul dan murid-muridnya menjatuhkan beberapa potong roti ke lantai tersebut selama 5-60 detik.
Setelah diteliti, makanan yang jatuh selama 5 detik ternyata telah terkontaminasi 1800 bakteri. Sedangkan makanan yang jatuh selama 1 menit, jumlah bakterinya meningkat 10 kali lipat. Bagaimana jika makanan dibiarkan jatuh sampai 5 menit?
Di tahun 2006, di negeri kita ini diketahui dalam 8 bulan, ada 11.476 orang keracunan makanan. Sepuluh di antaranya meninggal, dan 4.235 orang harus dirawat di rumah sakit. Laporan yang dikeluarkan oleh Portal Nasional Pemerintah Republik Indonesia ini juga menyebutkan bahwa kasus yang satu ini menunjukkan gejala peningkatan dari tahun ke tahun.
Jadi, kecuali Anda selalu membersihkan lantai setiap jam dengan cairan anti-kuman, sebaiknya makanan yang sudah jatuh dibuang saja. Jangan juga berpikir kalau meja dapur itu bersih. Paul pun menemukan bahwa Salmonella dapat bertahan selama 4 minggu. "Buah, sayur, dan unggas adalah makanan yang paling mudah terkena bakteri ini," kata Paul lebih lanjut.
Fakta dan Mitos Seputar Kesehatan Mata
Banyak mitos yang berkembang seputar kesehatan mata. Bagaimana kebenarannya? Inilah penjelasan Dr Ricky Roroh, SpM dari Klinik Mata Nusantara.
Mitos: Konsumsi wortel setiap hari akan membuat mata sehat, pandangan jernih, dan mencegah rabun jauh.
Fakta: Wortel mengandung karoten yang bermanfaat untuk kesehatan mata. Tapi sumber karoten tidak hanya wortel. Buah lain seperti pepaya dan mangga juga mengandung karoten yang tinggi, bahkan buah merah dari Papua yang sedang tren saat ini telah diteliti mengandung karoten yang jauh lebih tinggi dari buah-buah lainnya. Jadi, meski wortel bermanfaat untuk kesehatan mata, tidak perlu mengonsumsinya setiap hari. Sumber karoten bisa diselang-seling dengan buah-buah lainnya dalam jumlah secukupnya.
Orang pun menganggap sayuran yang mengandung vitamin A ini berperan besar dalam fungsi penglihatan manusia. Tapi sebenarnya vitamin A yang ada dalam wortel lebih banyak berperan pada metabolisme sel-sel saraf yang ada di retina. Jadi, banyak makan wortel pun tak dapat mencegah bertambahnya/mengurangi jumlah minus/plus/ silinder lensa kacamata anak. Maksudnya, kalau pangkal kesalahan terjadi pada sistem optik tentu vitamin A tidak bisa memperbaiki keadaan tersebut. Sama dengan kamera yang lensanya sudah tidak fokus. Film dengan merek apa pun yang dipakai tetap akan menghasilkan gambar buram.
Mitos: Membaca sambil tiduran menyebabkan rabun jauh.
Fakta: Mitos ini tidak benar. Seseorang yang sudah punya kecenderungan rabun jauh, misalnya dalam keluarga hampir semua menderita rabun jauh, meski tidak pernah membaca sambil tiduran, tetap saja berpotensi terkena rabun jauh. Yang menjadi masalah dalam aktivitas ini adalah apabila jarak baca terlalu dekat. Seperti diketahui membaca sambil tidur biasanya membuat jarak buku dengan mata makin lama makin dekat sehingga mata dipaksa untuk terus fokus dalam jarak yang tidak ideal. Tidak hanya sambil tiduran, membaca sambil duduk atau berdiri sekalipun kalau jaraknya kurang dari 12 inci (sekitar 30 cm) membuat mata cepat lelah sehingga dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan rabun jauh.
Mitos: Membaca dengan cahaya remang-remang menyebabkan rabun jauh.
Fakta: Membaca dalam ruang yang penerangannya kurang membuat mata cepat lelah. Seperti laiknya melihat dalam gelap, mata harus berakomodasi maksimal supaya obyek dapat terlihat. Saat membaca sebaiknya penerangan dalam ruangan tersebut cukup, lebih baik lagi kalau cahaya datang dari arah belakang anak. Tak hanya remang-remang, cahaya yang berlebihan pun sama tak layaknya untuk kesehatan mata.
Mitos: Melihat laut/pemandangan hijau dapat menyembuhkan rabun jauh.
Fakta: Seperti otot-otot lainnya, otot mata pun butuh relaksasi. Sebagai gambaran, seseorang yang duduk terlalu lama pinggangnya akan terasa pegal-pegal. Demikian halnya dengan mata. Kalau mata digunakan untuk melihat satu fokus yang sama dalam waktu lama, misalnya membaca buku yang tebal, akan terasa sangat lelah. Untuk itu disarankan melihat titik terjauh sebagai relaksasi otot mata. Tidak harus melihat laut/pemandangan hijau, yang penting melihat titik terjauh. Dan yang harus diingat, kegiatan ini bukan untuk menyembuhkan rabun jauh melainkan sekadar sebagai relaksasi otot mata.
Mitos: Kacamata harus dipakai terus-menerus supaya minus mata tidak bertambah.
Fakta: Mitos ini sama sekali tidak benar. Seorang dengan gangguan rabun jauh akan kesulitan melihat tanpa kacamata. Itulah sebabnya kacamata harus dipakai. Tapi tentu saja tidak di setiap kesempatan kacamata harus dipakai terus. Bertambahnya minus disebabkan jarak retina ke lensa makin panjang seiring bertambahnya usia dan bukan karena dipakai/tidaknya kacamata.
Ada juga anggapan kacamata jangan terus-terusan dipakai karena malah akan menambah minus. Ini juga tak masuk logika. Sama dengan anggapan kalau kacamata harus selalu dipakai agar kelainan refraksi tak tambah parah. Perkembangan ukuran bola mata sama seperti perkembangan tubuh manusia. Ukuran bola mata bayi akan lebih kecil ketimbang ukuran bola mata orang dewasa. Hal ini berarti dari masa bayi hingga masa dewasa sebetulnya terjadi perkembangan pada ukuran/dimensi bola mata. Pada 2 tahun pertama yang sangat berkembang adalah sistem optik di bagian depan mata (segmen depan), yaitu sebesar 60 %. Setelah usia 2 tahun segmen depan masih berkembang tapi sudah tidak begitu pesat.
Segmen belakang akan tumbuh pesat saat usia anak berkisar 4 sampai 15 tahun yang kemudian menjadi lambat perkembangannya dan berhenti di sekitar usia 18 tahun. Artinya, bagian belakang bola mata di mana retina berada makin lama makin panjang sesuai dengan pertambahan usia. Jadi kalau pada usia 6 tahun mata anak sudah mencapai minus dua, itu karena jarak retina ke lensa makin panjang sehingga minusnya pun akan bertambah besar. Dengan kata lain, penambahan minus pada usia pertumbuhan bisa dikatakan alamiah.
Penulis : Marfuah Panji Astuti
new start

halo saya sebagai admin blog pmr ini memulai awal baru dari titik nol.
Untuk tahun ajaran baru ini (2009-2010) kami mempunyai PI (Pengurus Inti) baru yaitu:
Mumtazia sebagai ketua
Aulia Martha sebagai Wakil Ketua
Nur Shobihatin sebagai sekertaris
Nadhila sebagai Bendahara
Sarinindita sebagai Humas, Pengacara, Diklat, Logistik
untuk di awal tahun ajaran ini kita memiliki program kerja baru seperti yang dilakukan di tahun sebelum sebelumnya. yang sedang dalam proses rancangan tentunya.
jadi untuk update kegiatan PMR lebih detail nya tunggu saja.
-admin