can you count me?

welcome snack to you

Selamat datang di blog PMR SMPN 115 Jakarta.
di blog ini kami akan berbagi tentang kegiatan dari ekstrakulikuler dan beberapa tips kesehatan yang mungkin berguna untuk pembaca sekalian.
Jika ada saran dan kritik bisa disampaikan melalui
chatbox di bagian kanan.
Salam Perdamaian Dunia!

Sabtu, 08 Agustus 2009

Perokok Pasif Bencana Yang Terlupakan


Temuan Susenas 2001 menunjukkan umur dini mulai merokok yang terus meningkat, disertai lama merokok dan dosis rokok yang cukup tinggi pada sebagian besar perokok laki-laki. Hal yang perlu diwaspadai adalah dampak negatif asap rokok terhadap indivividu disekelilingnya/ perokok pasif. Untuk itu dilakukan analisis lanjut data modul Susenas 2001 untuk mengetahui seberapa besar permasalahan perokok pasif di Indonesia, penduduk mana yang lebih banyak terkena, kelompok umur mana dan berbagai karakteristik lainnya yang terkait. Juga dilakukan kajian perkiraan jumlah populasi perempuan perokok pasif yang terkena kanker saluran pernafasan dan jumlah biaya yang harus ditanggung setiap tahun sebagai akibatnya.

Perokok pasif dalam analisis ini adalah penduduk bukan perokok yang tinggal serumah dengan perokok aktif, yang merokok dalam rumah. Jumlah sampel perokok pasif meliputi 133.694 penduduk. Sesudah diinflat jumlah perokok pasif menjadi 97.560.002 penduduk. Dilakukan analisis deskriptif untuk mengetahui prevalensi perokok pasif pada laki-laki dan perempuan menurut berbagai karakteristik seperti umur, status kawin, daerah perkotaan/pedesaan, propinsi, dan kawasan yang dibedakan atas Jawa Bali, Sumatra dan Kawasan Timur Indonesia/ Katimin. Juga dilakukan perhitungan jumlah populasi perempuan perokok pasif yang berisiko terkena kanker saluran pernafasan, dan jumlah perkiraan biaya yang harus ditanggung setiap tahun apabila perokok pasif perempuan menderita kanker saluran nafas akibat asap rokok.

Hasil analisis menunjukkan prevalensi perokok pasif di Indonesia sebesar 48,9% atau 97.560.002 penduduk, yaitu pada laki-laki 31,8% dan pada perempuan 66%.
Di setiap propinsi prevalensi perokok pasif pada perempuan selalu lebih tinggi daripada laki-laki; pada perempuan berkisar antara 46,3-76,9%, dan pada laki-laki berkisar antara 22,6% - 38,5%.

Prevalensi perokok pasif tertinggi adalah pada kelompok umur balita dan anak 5-14 tahun laki-laki maupun perempuan. Pada balita sebesar 69,5%, pada kelompok umur 5-9 tahun sebesar 70,6%, dan pada 10-14 tahun sebesar 70,4-70,7%. Pada kelompok umur 15 tahun ke atas prevalensi perokok pasif pada perempuan tetap tinggi yaitu berkisar antara 68,8-56,3%. Sedangkan pada laki-laki sangat rendah pada umur yang semakin tua yaitu sebesar 51,1% pada umur 15-19 tahun dan mencapai 5,3% pada umur 50 tahun ke atas.
Pada perempuan berstatus kawin prevalensi perokok pasif cukup tinggi pada yaitu 70,4%, juga pada yang berstatus belum kawin sebesar 66,9%, sedangkan pada yang berstatus cerai sebesar 40,6%. Berbeda dengan laki-laki di mana justru pada yang berstatus belum kawin prevalensi perokok pasif adalah tertinggi yaitu 57,2%, dan pada yang berstatus kawin dan cerai sangat rendah yaitu masing-masing 3,4% dan 9,7%.

Di ketiga kawasan yaitu Jawa Bali, Sumatra, dan Kawasan Timur Indonesia (Katimin) prevalensi perokok pasif perempuan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibanding pada laki-laki.

Di perkotaan maupun di pedesaan, prevalensi perokok pasif perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki.
Hasil perhitungan menunjukkan jumlah populasi perokok pasif perempuan yang berisiko terkena kanker saluran napas sebesar 48.594 penduduk, dan total biaya yang harus dikeluarkan tiap penderita kanker paru setiap tahunnya sebesar Rp. 8.712.000,- Dengan demikian perkiraan jumlah biaya yang hilang karena populasi perokok pasif perempuan yang menderita kanker saluran napas adalah sebesar Rp.42.335.000.000,- setiap tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar